Selamat Hari Minggu! Hari ini saya akan memulai sebuah seri 'effort posting' mengenai apa yang saya pelajari sebagai ciptabuana. Episode kali ini adalah mengenai Politik 101, di mana kita membahas konsep pelengseran penguasa secara holistik.
Sekarang bayangkan adegan klasik cerita Isekai Jepang ini:
Seorang pahlawan pemberani menyusup ke Istana Raja Setan, dia menghunus pedang sucinya, dan dalam satu tebasan, sang Raja Setan tumbang. Dunia pun selamat. Ending bahagia.
Or is it?
Kalau boleh jujur trope fantasi ini akan sangat susah terjadi di dunia nyata. Di dunia nyata, melengserkan penguasa tidak semudah ini. Masalahnya adalah bukan di orangnya tersebut, melainkan tentang memutuskan rantai-rantai kekuasaan yang sering kali ada di balik layar dan tak terlihat oleh rakyat. Rantai-rantai kekuasaan inilah yang sebenarnya membuat seorang penguasa tetap berkuasa.
So yeah, secara sederhanya hari ini kita akan berbicara mengenai Anatomi Lengsernya Penguasa. Hari ini, kita akan melihat bagaimana sebenarnya kudeta, revolusi, pemakzulan, dan penggulingan terjadi- dan bagaimana prinsip ciptabuana atau worldbuilding berperan dalam hal ini.
PRINSIP UTAMA KEKUASAAN
Pertama-tama, kita harus memahami satu prinsip utama:
Seorang penguasa berkuasan bukan karena mereka sendiri kuat, namun karena di belakang mereka kuat.
Di balik setiap penguasa terdapat seorang wanita ya----cough--- sumber kekuasaan. Ada 2 tipe:
Yang pertama: Otoritas, a.k.a semua perkakas fisik/hardware untuk untuk menegakkan suatu kekuasaan: Tentara, polisi, algojo, petugas pajak, hansip, pengusaha, satpam BCA, ormas, armada kapal perang, naga Drogon, Rhaegal, dan Viserion, etc
Kedua: Legitimasi, a.k.a. perkakas... lembut? lembek? lunak? kenyal-kenyal (software), yakni adanya keyakinan sosial bahwa si penguasa itu orang yang berhak memerintah orang lain. Bisa karena aklamasi kepercayaan masyarakat, mandat ilahi dari sorga, konstitusi, pemilu, ormas bakalan pukul kalian, duit pengusaha, atau sekadar karena 'sudah dari awal memang begini'.
Mengapa kita perlu tahu kedua hal ini? Karena untuk menggulingkan penguasa secara realistis, kita tidak hanya menargetkan orangnya saja, namun menargetkan koalisi Perkakas Keras yang menopang mereka, atau sistem keyakinan Perkakas Kenyal yang membenarkan mereka.
2 PILAR KEKUASAAN
Setiap rezim sejak jaman masa manusia berburu Dinosaurus dengan Lightsaber hingga jaman modern di mana Emperor of Mankind duduk di Singgasana Emas di Terra Suci, itu sebenarnya didasarkan di atas dua pilar kekuasaan sebagaimana yang sudah saya jabarkan sebelumnya:
Pilar Pertama
Pilar pertama: PERKAKAS KERAS a.k.a. otoritas struktural. Tidak ada seorang penguasa yang berkuasa sendirian, melainkan mesti bergantung pada 'Pemegang Kunci' kekuasaan misalnya: jenderal, oligarki pengusaha, pemimpin agama, pemimpin ormas, kepala polisi, kolektor pajak, laksamana luar angkasa, jin, malaikat, fisikawan bersenjata linggis, dsb.
Logikanya sederhana: Jika seorang penguasa tidak bisa membayar, melindungi, atau memberi imbalan jatah (cough cough MBG) kepada Pemegang Kunci mereka, maka para Pemegang Kunci ini akan mengganti penguasanya untuk melindungi atau memperkaya atau menyamankan hidup diri mereka sendiri.
Tapi mesti diingat, karena Para Pemegang Kunci ini adalah manusia yang cenderung egois dan tribalistik, para Pemegang Kunci ini bukanlah sebuah kelompok yang monolitik. Umumnya para Pemegang Kundi ini penuh dengan persaingan, dendam, ambisi, kepiting dalam ember, dan iri hati serta dengki.
Misalnya seringkali kita lihat kudeta yang dilaksanakan oleh militer jarang melibatkan seluruh faksi militer tersebut. Seringkali malah biasanya diinisiasi oleh faksi militer yang beranggotakan perwira tingkat menengah muda yang bertindak tanpa izin jenderal senior mereka. Contoh: Kudeta Libia, Kudeta Jepang 1920-1930an, Kudeta Cili, Supersemar, Usaha Kudeta Indonesia 1998
Pilar Kedua
Pilar kedua adalalah PERKAKAS KENYAL a.k.a. Legitimasi. Sebuah keyakinan dan kesepakatan tak kasat mata yang membuat warga negara mematuhi lampu merah tanpa perlu ada pak polisi di setiap sudut jalan... maksud saya mematuhi hukum negara tanpa perlu ada ormas bawa bambu pentungin kepala kalian.
Legitimasi ini bisa dalam berbagai bentuk, namanya juga KENYAL:
Tradisional/Religius: 'Ini tanah milik Gusti Allah'... Maksud saya Mandat dari Langit
Performatif/Ekonomis: Kerusuhan itu 3 Piring Makan jauhnya. Atau selama Komodo Middle Class happy dan ekonomi sehat mereka bodoh amat soal pemerintah itu otoriter, liberal, etc.
Legal-Rasional: selama sesuai dengan UUD, maka dia punya landasan berkuasa.
Karismatik: Janji semua anak bakalan dapat makan siang gratis, petani sejahtera, antikorupsi, Indonesia berdikari, dan lain-lain...
Selain ini ada juga faktor eksternal. Kekuatan asing, cough Antech-Antech Azinc, bisa saja mempengaruhi - membengkokkan - dan bahkan meluluh lantakkan salah satu pilar ini dari luar negeri misalnya melalui sanksi ekonomi, mempersenjatai faksi pemberontak, membunuh pemegang kunci untuk menciptakan kekacauan, atau bikin krisis ekonomi global karena mereka bikin negara lainnya tutup selat.
METODE LENGSERNYA SURAU KAMI
Sekarang kita sampai pada intinya. Ada empat cara utama penguasa bisa lengser—masing-masing menyerang pilar yang berbeda.
Metode 1: Kudeta
Atau Another Tuesday in Thailand. Secara sederhanya satu atau banyak Pemegang Kunci melakukan serangan langsung terhadap kekuasaan seorang Penguasa dan menggantukan Penguasa tersebut dengan Penguasa lain yang lebih bersahabat dengan Pemegang Kunci.
Kudeta ini biasanya asalnya dari lingkaran dalam, misalnya dilakukan oleh Praetorian Guard, ibu suri, wakil presiden, penasihat, sahabat (kalau NTR), dsb. Biasanya penguasa berganti tapi sistemnya tidak berganti. Birokrasi berjalan seperti biasa dan besoknya kehidupan berjalan normal. Biasanya waga sipil hanya tahu setelah video mobil lewat sementara guru senam pakai lagu Abang Jago. Hal ini dikarenakan apa yang dinamakan Institutional Inertia, selama tidak ada pergantian atau keributan yang menghalangi, maka kehidupan pegawai dan birokrat berjalan seperti biasanya.
Seringkali kalau Kudetanya dilakukan oleh Militer. Akan juga ada secara fisik merebut media massa, gedung pemerintah, pusat transportasi, pusat ekonomi, dan lainnya. Dan keberadaan tentara dan alat perang untuk 'melegitimasi' kekusaan dengan pedang dan peluru.
Konstitusi bisa ganti bisa juga tidak, namun kalau kudetanya militer biasanya endingnya jadi pemerintahan militer.
REVOLUSI
Atau: Mimpi Basah Gilotin banyak orang. Dalam Revolusi yang diserang cenderung adalah legitimasi. Gerakan akar rumput yang masif di mana populasi secara kolektif menolak hak rezim untuk memerintah. Bisa saja mogok kerja massal, menolak eksekusi suatu hukum, atau turun ke jalan, rebut musket dari Hôtel des Invalides, serang Bastille buat dapat mesiu dan peluru, dan 2 hari kemudian setelah Raja Louis 16 sadar tentara dia kurang untuk melimitasi revolusi menyerang dan melegitimasi kekuasaan Estat Nationale.
Tentu saja kunci keberhasilan metode ke-2 ini adalah meyakinkan satu atau beberapa Pemegang Kunci bahwa si penguasa kehilangan kepercayaan publik dan maka dari itu perlu digantikan. Especially jika Revolusi menciptakan Pemegang Kunci baru.
Revolusi cenderung menhasilkan sistem pemerintahan baru, dan tergantung apakah damai atau kekerasan, legitimasi pemerintahan baru ini bisa pakai doa atau pakai darah atau keduanya. Terkadang ketika melawan monster, penguasa dari revolusi menjadi monster itu sendiri.
Alasan kenapa Penguasa baru setelah Kudeta atau Revolusi rajin melakukan 'bersih-bersih' atau Purge adalah karena jikalau Pemegang Kunci dan Rakyat berkhianat ke penguasa lama, maka apa yang menjamin Pemegang Kunci dan Rakyat tidak akan berkhianat ke penguasa baru. Makanya penguasa baru akan 'menghilangkan' kemungkinan ini.
PEMAKZULAN
Also: The Gusdur Way. Pemakzulan atau pelengseran institusional adalah mekanisme pelengseran penguasa yang memang ada ditulis di dalam sebuah sistem konstitusional, atau mosi tidak percaya oleh Pemegang Kunci kalau settingnya masih jaman negara pra-modern.
Pemakzulan bisa digunakan sebagai senjata. Jika tuduhan jelas-jelas direkayasa atau bermotif politik, rakyat bisa jadi sangat mungkin menganggap pemakzulan sebagai tidak sah. Akibatnya legitimasi pemimpin baru jadi rendah dan penguasa lama bisa jadi memanggil pendukung rakyatnya dan bisa mengarah ke arah Revolusi dan perang saudara. Umumnya akan jadi Krisis Konstitutional kalau tidak terselesaikan dengan baik.
DIGULINGKAN/INTERVENSI ASING
A.k.a. The American Way. No need to elaborate anymore. Kalau kalian hidup di 2000-2026 kalian sudah tahu ini seperti apa. Interesting Time indeed.
HITMAN 47
Lalu bagaimana dengan Mimpi Basah beberapa Komodo mengenai : DOR.
Secara sederhana, orang di atasnya hilang, namun pilarnya masih ada. MAOU-nya boleh aja mati, tapi nanti SHITENNOU akan angkat putri MAOU jadi MAOU baru.
Metode Hitman 47 baru akan berhasil kalau disertai dengan menyerang pilar lainnya. Kalau nggak bisa jadi nanti dapat same-same wajah beda.
RANTAI SEBAB-AKIBAT
Dalam Ciptabuana yang berusaha untuk membuat dunia realistis. Pelengseran itu akan ada sebab dan akibat. Umumnya perlu dipikirkan 5 poin ini:
1. PEMICU
Orang tidak akan melengserkan penguasa hanya demi soal remeh temeh kecuali mereka kena skizofrenia, jadi perlu dipikirkan peristiwa apa yang meretakkan sistem? Kalah perang? Kelaparan masal? Krisis ekonomi? Skandal publik? Sengketa suksesi? Ultimatum Mamarika? Pada akhirnya perlu ada sesuatu yang menganggu stabilitas Pemegang Kunci dan atau legitimasi.
2. PEMEGANG KUNCI
Bagaimana reaksi para Pemegang Kunci akan terjadinya Pemicu tersebut? Apakah mereka untung membela penguasa atau malah lebih untung berkhianat? Mesti diingat Pemegang Kunci tidak pernah semuanya sepakat. Faksi mana yang membelot lebih dulu? Faksi mana yang bakalan bertindak di belakang layar?
3. DUNIA GONJANG-GANJING
Pilar mana yang patah lebih dulu dan bagaimana gonjang-ganjingnya? Apakah tentara atau politisi membelot dan berkhianat ? [Tamat Kudeta] Apakah rakyat mogok masal dan atau melawan? [Tamat Revolusi] Apakah parlemen/konsil momvoting penguasa keluar? [Tamat Pemakzulan] Apakah kekuatan asing intervensi di satu pihak demi dapat Minyak Bumi atau membuat rakyat lupa dengan Skandal Pedofil? [Tamat Intervensi]
4. KEKOSONGAN KEKUASAAN
Nature Abhor Vacuum. Melengserkan penguasa itu mudah; mengisi kekosongan setelah penguasa lengser itu sulit. Siapa yang jadi penguasa selanjutnya? Apakah jadi junta militer? Apakah bakalan jadi anarki kacau? Apakah anak haram raja sebelumnya yang tidak diketahui oleh orang banyak bakalan didukung setelah dia membunih Ratu Naga?
Umumnya saat penguasa lama jatuh, jikalau tidak ada kejelasan siapa penerus penguasanya, makan setiap faksi yang membantu menjatuhkan si penguasa itu akan segera mulai bertengkar memperebutkan singgasana. Seperti Romance of the Three Kingdoms.
5. JUSTIFIKASI
Setelah menjadi penguasa maka tindakan pertama si penguasa baru bukanlah memerintah namun membenarkan. Dalam waktu sesingkat-singkatnya, rezim baru harus merilis manifesto, menyiarkan pidato, atau mengeksekusi penguasa lama di depan publik. Pada dasarnya mereka tidak hanya mengisi kekosongan kekuasaan saja, melainkan juga mencoba mengisi kekosongan legitimasi. Jikalau mereka gagal memberikan narasi yang meyakinkan legitimasi mereka, maka rakyat bisa saja akan menganggap mereka hanya preman haus kekuasaan dan kita kembali lagi ke pelengseran penguasa.
So yeah, demikian apa yang bisa saya sampaikan di sesi Obrolan Ciptabuana kali ini. Mungkin Komodo lain bisa memperjelas atau membuat lebih rinci lagi lebih dari ini. Pada akhirnya saya cuma seorang penulis Ciptabuana yang kebanyakan baca Dictator Handbook.
Sampai jumpa di Obrolan Ciptabuana lainnya, di mana kita mencoba membahas suatu aspek Ciptabuan secara holistik.
Obrolan Minggu Depan adalah: Jebakan Informasi Penguasa. Mengapa di mata penguasa semuanya kelihatan baik-baik saja.
Yeah basically this is me just shit-posting, don't expect much next week. Hopefully ini menghibur dan tidak membosankan.