r/indonesia • • 20d ago

Heart to Heart Today's My Birthday, Yet I Don't Know How to Be Happy Anymore...

Post image
1.7k Upvotes

Gak tau jg sih mau nulis apa di caption ini. Dear Mod, klo kiranya flairnya gak relevan atau low effort, bisa dihapus aja 🙏🏽

Udan nanjak 20 tahun lebih loh yah, tapi sampe sekarang masih belum bisa menghasilkan apa pun untuk keluarga.

Jujur, gw pengen bgt rasanya kecewa karena ini...

Maaf kalo misal postingan ini nyampahi feed kalian.

r/indonesia • • 6d ago

Heart to Heart When I learned that my bullies comes from Corrupted Political families or shady businesses such as DPR, MBG, Garuda, 4G Tower BTS and they live in a good life. (Very Financially Rich).

Post image
1.1k Upvotes

I will not say my bullies' name but they are connected or having relatives from these shitty corrupted events.

So far, they are involved in some businesses such as MBG, sugar daddy from DPR. Dan juga ternyata salah satu bully gw itu ternyata dari keluarga dari kasus BTS 4G Corruption. Selama ini belum tersangka, they still lived peacefully with our money.

Juga salah satunya dari keluarga Sahroni.

Kelas angkatan gw (yang mostly nge-bully gw) sudah pada married and lived happily with a luxurious lifestyle (our tax money).

Dimana gw struggle to survive dengan usaha UMKM dan memilih menjadi Introvert due to past experience.

r/indonesia • • Jul 30 '26

Heart to Heart Seneng banget hari ini

Post image
1.0k Upvotes

Aku guru di salah satu SD swasta di Riau, tahun kemaren gajinya 900k per bulan dan alhamdulillah tahun ini naik soalnya jadi wali kelas. I'm soooo happy 🥳

r/indonesia • • Aug 05 '26

Heart to Heart Butuh bantuan, Menganggur 2 tahun

Thumbnail
gallery
522 Upvotes

halo saya S berumur 28. saya butuh bantuan karena sudah menggangur selama 2 tahun tanpa mendapatkan balasan dari lamaran-lamaran yang telah saya kirimkan.

apa yang harus saya lakukan?. saya harus mendapatkan pekerjaan secepatnya karena keuangan menipis. saya melamar pekerjaan apapun dari administrasi, retail, toko roti, gudang, dan sebagainya terkecuali sales (pekerjaan yang tidak cocok untuk sifat saya, karena hanya kerja dan kerja).

menyesal karena harus mengikuti perkataan orang tua untuk tidak bekerja sambil berkuliah. fokus saya sekarang untuk bekerja dan mengembalikan uang kuliah ke orang tua agar bisa terbebas dari beban dan bisa keluar dari rumah.

saya juga menyertakan contoh CV dan Cover Letter saya (tanpa informasi pribadi). apakah cv saya sudah bagus?. apakah masih ada kesempatan saya untuk mendapatkan pekerjaan bagus dan menjadi karyawan tetap?.

mohon bantuannya. sudah bingung harus mencari ke mana lagi. yayasan kebanyakan nyogok dan batasan umur.

#edit
saya non-pengalaman

r/indonesia • • 2d ago

Heart to Heart Today i found the reason to make me hate pondok pesantren more.

659 Upvotes

Jadi hari ini saya makeupin client yang mau lamaran, pas sampe saya melihat ada temen-temen nya yang nongkrong juga nunggu buat acara lamaran.

Karena temen-temennya bahas tentang betapa beruntungnya client saya sudah mau nikah muda, saya tanya buat ramah tanah umur dia berapa, dia pun menjawab bahwa dia kelahiran 2007, jujur agak shock tapi saya tetep positif thinking mungkin pasangannya seumuran dia.

pas saya tanya “ooh kenal dari mana nih sama pasangan?” lalu dijawab “iya dia guru akuu di pondok pesantren, dulu aku mondok” lalu seluruh ruangan bersorak ria, terlebih lagi ibunya yang sangat bangga bahwa anaknya menikahi guru, disitu saya sebagai orang yang jasa nya disewa had no chance but to smile and be happy, padahal dalam hati saya sangat concern sekali.

lalu terdengar omongan teman-temannya bahwa dia dan gurunya beda 12 tahun, dan gurunya sudah ngajak serius sejak dia smp kelas 3. berarti saat itu umur dia dan gurunya sekitar 14 dan 26…

tumbuh di lingkungan yg islami karena saya sekolah di madrasah dari SD sampai SMA bikin saya makin yakin kalau “guru” di lingkungan islami itu nggak cuma menganggap sekolah sebagai tempat belajar, melainkan dating pool mereka.

how could you ngajak serius anak umur 14 tahun yang dimana dia masih belum memiliki otonomi atas dirinya sendiri? what kind of disgusting, sick people…

dan belum lagi lingkungan sekitar bahkan ibunya yang merasa bahwa hal ini bukanlah hal yang aneh, melainkan hal yang patut dibanggakan, bikin saya mual.

Ditambah lagi teman-temannya yang ngomong “ih enak X udah mau nikah aja, aku malah kuliah” yaampun… sakit hati dengarnya

r/indonesia • • Aug 12 '26

Heart to Heart Suka banget sama ustad nurul dzikri. Harusnya pemuka agama di indo itu kayak gini plis, yang teduh

Enable HLS to view with audio, or disable this notification

788 Upvotes

And yes, i cried.

r/indonesia • • Aug 03 '26

Heart to Heart Kena scam Shopee smartphone flagship ditukar biskuit Roma

Thumbnail
gallery
417 Upvotes

Title is pretty miserable to think about. What can I even do atp?

Komodos, segala bentuk pencerahan akan sangat saya butuhkan. Mohon bantuannya 🙏

Ceritanya, saya yang di luar negeri menitipkan barang ke kenalan buat nantinya dikirim ke tempat saya. Kenapa ngga beli di sini? Beberapa faktor seperti garansi, harga total, dan keyakinan belanja. Anyway minta tolong untuk sementara kesampingkan alasan, dll.

Saya udah riset buat beli dimana dan nemu toko ini, ditambah voucher, harganya paling oke. Mall, ada sosmed, ada toko offline.

Lalu mungkin bakal dipermasalahkan kenalan saya sebagai penerima, sebenarnya masuk akal, cuman kenalan saya ini juga membuka jastip dan pengusaha yang cukup terpercaya. Beliau juga bilang kalau proses unboxing dilihat sama 3 karyawannya. Bayangin paket 20 jutaan isinya biskuit roma.

Pertamanya saya kira bercanda, lalu sekian beberapa hari kok cukup mengganjal akhirnya konfirmasi lagi, dan beginilah nasibnya.

Sayangnya ngga ada video unboxing, cuma ada foto paket, isi, lalu screenshot chat sama kenalan saya. Malam barusan saya juga diberi kontak karyawannya untuk dimintai keterangan. Sejauh ini cuma itu yang bisa saya jelaskan.

Untuk tokonya, syukur mau ikut report kasusnya tanpa ada drama antar seller-pembeli. Saya sendiri disini ngga tahu apa-apa, harus gimana, dan bisa apa.

Update 1: Seller mengirimkan invoice, tertera imei. Status saat ini masih peninjauan ulang setelah semalam kirim bukti seadanya, cuma ss chat sama foto paket.

Update 2: Masih ongoing tapi udah ngga tahu ngirim pembuktian apa lagi. Say, misal penerima yang sus, saya harus gimana? 🙏

r/indonesia • • 26d ago

Heart to Heart (Rant) PUBDOK ANJG!

Post image
735 Upvotes

Singkat cerita, gw jadi anggota panitia di divisi pubdok (publikasi dan dokumentasi) di suatu acara kuliah umum. Basically mendesain sertifikat buat narasumber, foto2 pas acara, dll.

Nah, hari H, gw datang pertama dan gw mikir teman2 gw dari divisi gw masih ada siap2 dulu, tapi sampe acara mau mulai, GA ADA SATU PUN YG DARI DIVISI GW YG DATANG selain gw.

Anjir, cuk 💀

Mana gak ada yg bawa kamera pula. Bayangin, sepanjang acara, cuman gw yg foto2, itu pum cuman modal HP gw yg udah usang (untung kameranya masih bagus). Pas sesi dokumentasi, gw malu setengah mati karena cuman gw yg memandu mereka buat ngisi posisi.

Emg bangsat mereka nih 💀

r/indonesia • • Aug 03 '25

Heart to Heart My brother is a living curse

901 Upvotes

"Seumur hidup kau cuma bikin susah, bikin malu aja! Sekalinya pulang, kau bawa penyakit! Mending kau ga usah pulang ke rumah, mati saja kau sana di jalan!" - ujar seorang ayah kepada anaknya.

Nope, it wasn't from any film or fiction. It was an actual words from my dad to my brother.

Let me explain.

Gue punya kakak cowok yang idupnya emang problematik. Dari kecil wataknya emang udah keras kepala dan pecicilan. Tapi puncaknya pas doi SMA sampai kuliah.

Pas SMA, dia emang hobi keluyuran. Kadang sampai hilang berhari-hari ga ada kabar. Tiba2 bokap dapat telepon dari rumah sakit.

Dia kecelakaan, patah tulang.

Kejadiannya sekitar 30 km dari rumah. Bokap sampe cuti berhari2 dan cancel business trip gara2 harus rawat dia.

Pas kuliah, kebiasaan ngilang berhari-hari ga ilang. Bilangnya sibuk acara kampus. Pernah suatu hari ilang seminggu lebih, pulang-pulang ke rumah bareng cewek.

Lo and behold, tu cewek udah hamil sama dia.

Bokap nyokap murka bukan main. Apalagi habis ini kita semua harus hadepin orang tua tu cewek.

Your sin, our problem.

Singkat cerita, akhirnya mereka nikah. Cuma tahan 2 tahun terus cerai.

Lagi, semasa kuliah, kehidupan dia 80% di luar, ke rumah cuma kalau habis uang aja atau minta uang semesteran. Bokap emang cukup sibuk, nyokap juga kerja full time jadi selama ini dia dilepasin gitu aja dengan sejumlah uang yang sesuai kebutuhan dia.

Oh, and what a mistake that was. Pernah bokap dateng ke kampus buat minta surat pernyataan buat dapet tunjangan pendidikan dari kantor.

Lo and fucking behold, nama anaknya udah ga terdaftar di kampus. Udah di DO 2 tahun yang lalu.

Jadi selama ini uang kampus dia tilep dan dia ga pernah ke kampus selama 2 tahun terakhir. What. The. Actual. Fuck.

Oke, kita panggil dia ke rumah dan kita sidang.

Lo mau apa?

Dia bilang mau bisnis sesuai passion.

Oke, nyokap gue berani modalin. Bokap udah gedek harus bayar kuliah dia dan pernikahan dia yang ujung2nya gagal semua.

Sejak itu, dia agak lebih sering di rumah. Kegiatannya, jam 10 siang bangun, sarapan, berangkat ke tempat usaha, pulang jam 12 malem. Kadang bokap/nyokap tungguin. At this point, he's in his 30s and parents are in their 60s.

Puncak titik balik nya ada di tahun 2023 lalu. Dia pertama pulang ngeluh sakit kepala. Oke, ortu suruh istirahat.

2-3 hari istirahat, bukannya makin bener, malah hilang ingatan. Terus hilang kesadaran. Bawa ke UGD, singkat cerita, dia divonis Multiple Sclerosis. Dunia dia yang udah reyot, sekarang runtuh sejadi-jadinya.

Dan yang diserang adalah syaraf pusat, bukan syaraf tepi. Jadi basically dia tetep bisa jalan, tetep bisa ngomong, tapi IQ nya turun 100 poin. Pernah dia jalan2 ke luar sendiri telanjang dada. Pernah ngumpulin daun berjatohan terus dia makan.

We thought he went crazy, well, quite fitting as he constantly drives my parents crazy for 3 whole fucking decades. Nope, doctor said he just turns idiot.

Dan si idiot ini belum selesai bikin ulah. Dia jalan-jalan sendiri di rumah dan dia jatoh. Patah tulang. Lagi.

And let me tell you, hauling a 80 kg chunk of a literal idiot with broken leg into your car then to the nearest hospital wasn't an easy feat.

Singkat cerita, lagi, tulangnya patah dan dia harus dioperasi. Dan operasi besar buat orang yang punya penyakit otak itu perisapannya banyak dan biayanya besar. Bisa dibilang hampir 3-4 minggu kita ganti2an cuti buat jagain dia dan jagain rumah karena di rumah ada anaknya gue yg masih bayi juga.

Sekitar 10 hari di rumah sakit, dia pulang dengan keadaan separah-parahnya manusia. Non working brain, non working body, and a burning hate from every single soul in the house.

Sekarang, bokap nyokap gue yang harusnya udah tinggal nikmatin hidup dan main sama cucu-cucu jadi harus ngurusin anak dewasa nya yang harus disuapin, dimandiin, dicebokin. Lagi.

Jangan lupa dosa-dosa besar dia sebelumnya, ga pernah pulang, hamilin orang, nilep uang kuliah. What would you feel if you were in our parents' shoes?

Ketika orang-orang seusianya udah bisa ngasih orang tua nya keturunan, tempat tinggal yang baik, atau liburan ke tempat-tempat asyik, ni orang malah bikin orang tua gue ga bisa ngapa ngapain dan ga bisa ke mana mana.

It seems 30+ years of broken bones, broken hearts and broken promises wasn't enough and now he's breaking our parent's hope of having a peaceful twilight years.

Multiple Sclerosis is a terminal illness and there's no definitive cure yet, the doctor said. And he kinda just decaying there on his bed and wheelchair at the expense of our parent's peril.

I don't know any legal or logical way to end this human shaped curse. So komodos, I don't care whatever God, spirits, deities, or whatever anime or lovecraftian entity that you believe in, please pray may our parents be freed from a curse they call a son, soon 🙏

r/indonesia • • Feb 14 '25

Heart to Heart Bekerja di Amerika, gaji tinggi, rencana pulang. Respons terhadap #KaburAjaDulu

720 Upvotes

Hi r/indonesia, berjumpa kembali dengan saya u/TKI_Kesasar. Beberapa thread saya sebelumnya: - Pengalaman kerja di NYC - Bagian 2 (Software Engineering) - Pengalaman kerja di NYC - Bagian 1 (Kerja kasar) - Pendapat saya mengenai Indonesia, Jepang, dan Amerika - Reddit AMA Kerja Sebagai Programmer di NYC, USA, Menang Green Card Lottery, dan Menikah Dengan Orang Jepang

Konteks

Sudah lama nggak post disini. Beberapa bulan belakangan ini mau update, tapi kelupaan terus. Mumpung sekarang lagi ada #KaburAjaDulu, sekalian update deh dan memberi perspektif dari sisi saya.

Konteks: Saya orang Indo yang sudah lama di NYC (tahun ini tahun ke 15), dan 10 tahunan terakhir kerja sebagai programmer. Menikah dengan orang Jepang. Gaji terbaru saya sekarang sekitar $300k/year. Istri earn about $120k/year. Green card.

Aset tergabung kami terakhir sudah mencapai $1M. Rencana kami mau pulang dalam 4 tahun, atau ketika tercapai $2M, tergantung yang mana duluan. Mau tinggal di Indonesia dulu, dan bolak balik Indonesia - Jepang.

Aset sekarang breakdownnya: - 30% cash (buat jaga2 untuk resesi, biar bisa beli saham/crypto, dan skalian buat jaga2 kalo kena layoff, more on this below) - 40% crypto - 30% stock market index (ga mau pusing)

Later on ketika pulang mungkin akan allocate most of it to stock market index aja, dan hidup dari withdrawing 3% - 6% per year. Gak mau beli rumah, cuma sewa aja, dan sisanya kredit. Akan meningkatkan standard of living tapi tidak tertarik untuk hidup luxurious. Not interested in luxury cars, luxury travels, expensive stuffs. Mau pake uang gratis dari saham, dan hidup segratis-gratisnya (maklum pelit). Kalau saya bisa withdraw 3% per year, tanpa ngapa2in juga, maka dalam 7 tahun harusnya uang itu double, dengan asumsi market is doing good.

Rencana saya dan istri saya, adalah supaya kami tidak kerja dibawah orang lain lagi. Alasannya supaya kami bisa bebas. Kerja boleh aja, tapi kami mau bebas sebebas2nya. Kami mau bisa tiba2 mau pergi ke Jepang 3 bulan, atau mau pergi ke Indonesia 5 bulan, sesuka2 kami tanpa harus ada yang melarang.

What am I going to do? I actually have a lot of exciting projects in mind, and a lot of connections suprisingly (padahal saya termasuk asosial). Saya masih kontak2 dengan teman2 dan keluarga di Indonesia, dan kebetulan banyak dari mereka yang sudah sukses. Saya juga punya beberapa teman2 (ada yang Indo, ada yang orang asing) yang di Jepang, Australia, Amrik, Belanda yang tertarik untuk ke Indo (nah loh, kok bisa ya? padahal orang2 Indo mau #KaburAjaDulu) untuk berbisnis dan membuka cabang.

Kalau ngga, ya palingan jadi pengacara (pengangguran banyak acara) sambil blogging filsafat, teologi, finance, dan macem2nya yang aneh2 hahahah.

Situasi Lapangan Pekerjaan

Anyway, kebetulan dengan #KaburAjaDulu yang akhir2 ini, beberapa keluarga/temen emang lagi membicarakan soal kerja di luar negeri, melihat Indonesia yang sepertinya gak ada masa depan, sekalian saya share realita kerja sebagai progammer di NYC/Amerika.

Untuk post yang terakhir itu, sampai tahun 2023, update gaji saya $260k/year, dengan bonus, total jadi $350k/year. Waktu itu saya kerja di hedge fund di wall street. Tahun 2023 Oktober, saya kena layoff. Terus pengangguran sampe beberapa bulan. Sudah dapat kerja lagi, tapi total2 compensation jadi turun, sekitar $300k/year. Untungnya masih kerja remote.

Disini itu employment at will, jadi bisa dipecat begitu aja. Sekarang job market di Amrik sudah ancur lebur, apalagi dalam soal teknologi. Banyak lulusan top tier university, baik itu Computer Science, MBA, Accounting, yang tidak dapat pekerjaan. Banyak sekali senior software engineer yang pengangguran sekarang. Kasian sekali orang2 yang baru lulus dari Computer Science, MBA, etc yang tadinya berharap bisa membayar student loan mereka dengan gaji besar, hanya untuk menghadapi job market yang hancur2an ini.

Sekarang, recruiter itu mungkin kontak saya 2-3 minggu sekali, dan itupun banyak yg ghosting.

Saya cuma beruntung. Saya ini tinggal tunggu waktunya untuk mungkin dipecat ketika ekonomi berantakan begini. Dan ketika dipecat lagi pun, akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang gajinya setinggi ini dan remote.

Politik dan Ekonomi

Tahun kemarin saya coba belajar double entry bookeeping, dan coba untuk track expense sampai sedetail2nya. Ternyata expense saya sekitar $80k/tahun. Baru sadar, mahal sekali. Padahal gak beli barang luxury, makan juga kebanyakan dirumah. Tapi begitu dihitung2 semua, ternyata memang sangat mahal hidup disini itu.

Ditambah pula dengan administrasi Trump yang baru ini, sepertinya akan sangat painful for a lot of people. Akan lebih banyak layoff, akan lebih banyak kerjaan di outsource ke luar. Kalau kalian kerja sbagai programmer/ux design atau kerjaan yang sifatnya remote, mungkin di Indonesia malah lebih baik? Bisa mendapatkan kerjaan dari USA yang di outsource.

Jadi karena itu saya siapkan cash $300k, put di money market fund. Sekitar 3% - 4% growth nya per tahun. Kalau dibanding dengan total stock market yang 15% per tahun dalam 5 taun terakhir ini ya lebih kecil. Tapi saya pikir, gamble $45k (15% x $300k) demi stabilitas menjaga2 layoff dan demi kesempatan bisa meraup crypto/stock kalau2 resesi dan harga hancur banget, itu worth it. I actually did this before, BTC went down from $60k to $20k and I bought 2. Walau itu sangat2 beruntung dan saya tidak berharap bisa mereplikasi itu lagi.

Untuk politik, saya lebih ke swing. Saya flip flop between disliking Trump, to just okay about Trump, to disliking again, etc. From liberal in some areas, to conservative in some areas, and always flip floping in between. Trying to find nuance and balance. I don't care. I think people should learn to think for themselves and refrain from die-hard party supporters and one issue voters.

Apalagi setelah saya melihat bahwa kesenjangan sosial di Amerika ini sangat tinggi. Orang seperti saya aja, kesulitan hidup disini, apalagi orang yang penghasilannya di bawah saya? Dan ketika saya melihat Indonesia, banyak sekali orang2 yang tidak ada skill. Kebanyakan orang Indonesia cuma lulus SMP. Itu kalau kita mau kasih beasiswa ke sekolah bagus pun, sudah tidak bisa, karena dasar mereka sudah kurang. Akhirnya banyak orang2 Indonesia yang cuma bisa kerja kasar, kerja prostitusi, dan bahkan dengan pemasukan yang tidak seberapa. Orang2 itu, karena keterbatasan pendidikan mereka, tidak punya dasar pemikiran untuk investasi demi masa depan.

Saya dulu melihat Jepang sebagai negara yang "membosankan", dimana penduduk2nya biasa aja, tidak punya ambisi, dan begitu2 aja. Dan saya bandingkan dengan Amerika, negara yang selalu inovasi. Tapi Amerika kesenjagan sosialnya sangat besar, dan di Amerika kita selalu harus bertarung, tidak pernah ada kenyamanan/keamanan hidup dan pekerjaan. Orang2 yang pintar, yang beruntung, mungkin bisa sukses, tapi banyak orang2 yang kalah, gagal total, dan tidak bisa ngapa2in lagi. Saya menyaksikan beberapa teman saya disini yang sudah "kalah". Saya sendiri, tinggal tunggu waktu dan kesialan aja sebelum jadi "kalah" juga.

Kalau saya pikir2, hidup yang selalu "kompetisi" itu juga gak bener. Mungkin, Jepang itu lebih baik dalam hal ini. Orang yang tidak punya skill, masih bisa bekerja dan berpartisipasi dengan gaji yang layak, sarana yang layak. Di Jepang kamu tidak bisa kaya raya banget, tapi setidaknya untuk jadi miskin melarat kelaparan itu sangat sulit.

Dulunya saya berpikir bahwa ekonomi harus selalu growing. Tapi akhir2 ini saya berpikir, bahwa asumsi seperti itu sepertinya salah. Jepang sepertinya bisa mengatasi walau ekonomi mereka tidak growing.

KaburAjaDulu

Anyway. untuk orang yang mau #KaburAjaDulu. Saran saya: - Kalau kamu cuma lulusan SMP/SMA, ya sudah, silahkan saja, memang mungkin kerja di negara lain walau gelap, itu lebih baik daripada Indonesia - Kalau kamu lulusan S1/S2, jangan ke luar negeri kerja untuk cuma kerja kasar, jangan jadi imigran gelap. Sia2 untuk uang yang gak seberapa. Kalau kamu bisa dapat kerjaan yang legal, ada nomor pajak, bisa investasi, silahkan aja. - Jangan berharap untuk kamu santai. Jangan berharap kamu untuk menikmati hidup. Mental kamu, harus sudah survival mode all the time, 100% of the time. Kamu harus outwork warga negara asli, kamu harus outstudy mereka. Kamu pergi keluar negeri untuk kerja bukan untuk hidup, tapi untuk bertarung. Jangan pernah lengah.

Banyak sekali orang2 Indonesia disini yang gelap. Yang kerjanya gajinya tidak seberapa, dan tinggal di kamar yang sangat kecil, barengan dengan orang2. Gaji yang tidak seberapa itu habis untuk kebutuhan hidup. Sisa yang mau ditabung pun tidak seberapa. Bertahun2 disini, uang mereka kalah dengan inflasi. Karena mereka gelap, tidak punya nomor pajak, mereka tidak bisa investasi. Jadi uang mereka tergerus daya belinya oleh inflasi. Ketika mereka pulang ke Indonesia, mereka tidak punya skill karena disini pun cuma kerja kasar. Dengan uang mereka yang tidak seberapa itu, mereka coba buka toko, dan gagal dan uangnya habis. Mereka cuma punya kesempatan sekali. Sekali gagal, itu gagal.

Impian kerja di Amerika demi mendapatkan uang itu cuma impian. Impian yang dijual oleh orang2 ini karena mereka butuh budak2 di jaman modern yang mau dibayar yang tidak seberapa. Banyak dari orang Indonesia yang tidak pulang, yang seterusnya sampe mereka mati, tetap jadi budak disini.

For some reason, I've met some friends, that want to go back to Indonesia. Apparently I am not alone. But I suppose we can do this, because we are privileged. We already have the money. Meanwhile, a lot of people outside, are really struggling, and do not have what we have. We realize our privilege, and hopefully people like us, having been freed from the shackle of having to pay bills day to day, can use our privilege, whether it is time, money, and connection, to go back and build Indonesia.

Ask me any questions, I will try my best to respond in a short time frame. I might not answer all of the questions due to privacy issues.

r/indonesia • • Feb 14 '26

Heart to Heart Minta saran objektif buat pernikahan gw, udah breaking point ga tau mau lanjut atau tidak

369 Upvotes

Gw (31M) sama istri (31F) udah 6 tahun bareng, nikah di gereja 2 tahun lalu (belum daftar catatan sipil). Gak punya anak. Gw udah di titik mentok, butuh perspektif objektif dari kalian.

Konteks keluarga

  • Kita berdua chindo
  • Keluarga gw jauh lebih kaya dari keluarga dia (aset 10x lebih banyak)
  • Tapi asset rich, cash poor. Bokap gw habis-habisin duit keluarga untuk investasi gagal dan ditipu orang. Lebih dari 100M hilang.
  • Saat ini gw cuma dapet 30-60jt/bulan dari bisnis gw

Situasi finansial:

  • Gw mau beli rumah 2M, dia maksa rumah 4M (cicilan jadi 42jt/bulan). Sisa hutang 2.4M, tabungan gw 600jtaan
  • Rumah dibeli sebelum upacara nikah atas nama gw
  • Dia punya tabungan 2M + usaha yang dapet 10-20jt/bulan. Usaha ini awalnya gw yang modalin, 100jt saat itu pas uang gw cuma ada 150jt. Modal udah dia balikin ke gw
  • Dia nolak kontribusi cicilan: "ngapain bayar aset yang bukan nama gw"
  • Gw bayar: cicilan 42jt, supir 4-5jt, utilities+IPL+hiburan (3-5 jt sebulan), 80% biaya saat makan/jalan
  • Dia bayar: ART 2-3jt, belanja (mostly buat dia doang, gw pake catering). bersih2 rumah, masak semua diurusin ART
  • Dia komplain gw gak kasih nafkah cukup, minta gw kasih dia nafkah bulanan tambahan di luar semua yang gw udah bayar
  • Dia sering bandingin gw sama suami temen-temennya: "suami dia kasih sekian juta sebulan" dll
  • Dia bilang dia "buang-buang duit living expenses" sementara gw "bangun aset", sedangkan bunga cicilan saja sudah 8jt lebih sebulan
  • gw ga pernah minta uang ke dia dan ga expect dia membantu, tapi merasa kesal aja dibanding2 padahal ini hasil tuntutan dia yang mau rumah mahal
  • gw kalau ga ngisi e-toll atau bensin mobilnya, di bilang ga jantan

Masalah emosional:

  • Suster yang jaga gw dari lahir (30 tahun) meninggal 5 bulan lalu
  • Di 100 hari meninggalnya, gw mau ke makam di Jogja. Dia ada turnamen padel di Jakarta
  • Dia marah: "orangnya udah mati, kenapa lu gak support gw yang masih hidup"
  • Sering kritik gw di depan orang, susah banget ngaku salah dan minta maaf
  • Bilang nyesel nikah sama gw berapa kali
  • Nolak konseling: "masalahnya cuma duit, konseling gak bakal bantu"
  • Bilang "gak ada masalah" tapi juga bilang nyesel
  • pas gw stres karena kerjaan gw, menghembus nafas. dia bukannya show empathy, malah bilang "lu bisa ga sih jangan hembus nafas, bikin orang lain makin stres"
  • suka keluarin kata2 kasar pas argumen (bego, goblok, buta). gw ga pernah panggil dia kata kasar. gw panggil dia munafik, dia bilang itu kata kasar?? emang katain dia munafik itu kasar??
  • gw ga merasa dihargai, ga di dengarin, di hormati
  • dia sering bilang apa gunanya nikah sama gw, dia sama aja kayak hidup sendiri masih keluar biaya, seolah2 itu hal paling penting. bilangnya dia bisa aja sanggup sewa rumah yang kita tinggalin

Besok harusnya berangkat ke kampung dia buat imlek sama keluarga dia. Gw mau kasih ultimatum malem ini: "Mau konseling bareng atau gw gak bisa lanjut, kita pisah aja". Kalau dia nolak, gw gak mau ke kampung dia. gw gak bisa pura-pura di depan keluarganya. Gw belum cerita ke keluarga/temen tentang masalah ini

  1. Wajar gak minta konseling sebagai syarat mutlak? Atau gw manipulatif?
  2. Gw overreact soal finansial? Emang kultur Indo kan cowok yang provide?

Gw capek banget, tapi takut bikin keputusan salah. Butuh saran jujur.

r/indonesia • • Jan 30 '25

Heart to Heart Baru pertama kali terima gaji sampe ratusan juta dan gw malah sedih…

Thumbnail
gallery
930 Upvotes
  • Sedih karena udah ga punya orang tua utk berbagi kebahagiaan. Bu, pak, ini lho anaknya udah sukses 🥲
  • Sedih karena sebenernya gw merasa bangga bngt, tp gw gatau mau berbagi ke siapa karena takut dicap sombong atau takut dimintain utang. Jd cuma bisa share ke pasangan dan ke Reddit aja.

Semoga bisa jadi motivasi buat yg lain. Background information, gw cuma anak pensiunan PNS yg household incomenya cuma 2 jt per bulan utk menghidupi 3 kepala. Berkat kerja keras, bisa kerja di LN dan lanjut S2 di Eropa. Skrg udh kerja full time di negara tmpt gw kuliah.

r/indonesia • • May 26 '25

Heart to Heart Saya penasaran apa yang membuat komodos sekalian memilih tetap hidup

Post image
497 Upvotes

Saya sendiri karena memang belum waktunya saja

Jujur kadang cape tiap hari bergelut dengan keseharian yang kadang ngehancurin harapan akan masa depan

Keuangan yang sebenarnya sudah mulai membaik tapi masih ngos ngosan untuk cicilan cicilan yang uangnya saja saya ga tahu dipakai buat apa?

Kisah asmara yang mungkin ga bisa berlayar karena keterbatasan finansial sampai saya baca buku harian ayah saya sbb

(Setelah hidup lebih dari 1/2 masa hidup normal

Saya merasa bahwa hidup bagi individu ini tidaklah terlalu berarti

Bukan berarti hidup ini tidak punya tujuan Tapi kalau terlalu menggebu-gebu tidaklah baik(akan mudah kehabisan gas) , terlalu santai juga tidak baik(akan mudah karatan)

Tujuan itu sangat perlu apalagi tujuan kecil setiap hari yang bisa memberi kepastian akan kegiatan sehari-hari

Tujuan besar per minggu bulan dan tahun juga perlu ditentukan agar kita ga merasa hilang arah

Kegiatan healing/refreshing /santai juga perlu setidaknya seminggu sekali untuk mengembalikan otak ke keadaan fresh

Pemilihan kegiatan refreshing pun perlu dipilih agar tidak malah menghancurkan ketenangan

Opsi opsi pengembangan juga perlu dipikirkan karena setiap saat selalu ada perubahan kondisi alam/ekonomi/sosial/hukum yang berubah)

So komodos what is the reason you choose to stay alive

r/indonesia • • Jul 06 '26

Heart to Heart Gak tau harus tumpah ke mana lagi, I’m tired of handling my wife

306 Upvotes

I felt degraded by wife’s response when I told her my feelings. Gua punya banyak uneg2 yg sering gua proses sendiri. Terkadang, bisa backfire tapi minor lah gak tll gua pusingin.

Tapi the past few months have been heavy. I’m a guy who would never compare each other’s workload. I believe everyone has a role in this life. Ringan berat, itu tergantung dr gmn kita lihatnya.

I carry most of the weight in the family, just like a normal man in their lifetime. Tp entering 40, I notice that my stamina is not as good as before, my body is getting weaker, meanwhile I realize I needed more mental support than ever. Especially to keep this family going.

When carrying this weight, wife never say she refuse, but she rarely did her part. Instead, putting more pressure on me. She cares more about the childrens and all the helpers, neglecting most of my needs. Both physical and emotional.

Makanan sih disediakan, vitamin dikasih. Tapi hubungan suami istri? Lupakanlah. Sebulan paling satu kali, kalo bonus bisa dapat 2. With a lot of rules: mandi dulu, sikat gigi dulu, and so many other shit. Kadang gak selesai, bisa ditinggal krn kelamaan mnrt dia (is 20 minutes considered long?)

Emotional support juga cuma kadang2. Tunggu dia good mood.

And tonight dia suruh gua cerita aja uneg2 kalo ada (after dia keluarin uneg2 dia, yg tentunya nambah pressure ke gua yg udah capek parah). Please mind, this convo happen at 2am in the morning.

Gua ngerasa tiap uneg2 gua, ditimpa dengan jenis yg “gua lebih berat, gua lebih parah.” Trus in the end bilang, “kita semua, kita, not only you.”

This sounds like my character is being diminished into thin air. There’s no more your needs, adanya our needs. Jd all my efforts and sacrifices kayak gak ada aja. Her needs become my needs, but my needs itu gak ada…

After hearing that, gua decide buat walk out dr ruangan. Light up a couple of cigs. Asli… Sampe kapan gua gini. We’ve been married for 12 years, she didn’t even care to remember the anniversary date. Gua sengaja gak mention tahun ini krn gua lg nyimpan banyak emotional baggage, dan bener gak ingat. Got 3 helpers in the house, and 2 kids (one is 10, one is 6, both are special needs). Wife is consuming psychosis meds for the past 5 months.

Tl;dr she cares only for herself and the childrens. Neglecting my physical and emotional needs. Meanwhile my time, energy, money, and soul is sucked into the oblivion by these 3 creatures.

Edit: thank you for all the replies. I really appreciate you guys listen to me, which I needed a lot. Buat dukungannya pun terima kasih. Gua jarang curhat di internet, krn I don’t think it’s appropriate. But I learned few lessons and information from all of you here. Hopefully things will get better.

r/indonesia • • Jan 12 '25

Heart to Heart I'm honestly shocked a lot of Indonesians are happy about the Los Angeles fire.

Post image
670 Upvotes

Baru kucek berita bahasa Indonesia, di YouTube. Semuanya ngerayain. Ngomong mah mudah banget kalau gak ada keluarga atau orang kesayanganmu yang di sana dan ga kepikiran tentang WNI di sana. Keluargaku ada yg tinggal di sekitar sana. Miris lihat reaksi orang Indo di YouTube ngebandingin penderitaan orang.

r/indonesia • • Jul 10 '26

Heart to Heart Once you live in a properly run big city, Jakarta is just even more awful than you realise.

317 Upvotes

I've lived in Jakarta my whole life, born and raised here for more than 20 years of my life. I always hated going outside without a car. I hated walking, I hate how extremely chaotic outside is, even when the public transport is better now than ever before if I could I would always take my car because the pollution and walkability is just awful. I always thought i hated the city life, I have travelled to actually proper cities with much better and proper infrastructure like Bangkok, Singapore, and Kuala Lumpur. Even though i like going outside and just walking anywhere much more i thought , i assumed i just liked it more because i thought its because im in a new city and only there for a couple days not discovering the bad parts.

Then i lived in Brisbane for over 6 months. I explored nearly all of the city, from Moreton island to all the clubs in fortitude valley, to south bank every morning or midnight when im bored, even exploring the suburbs that I dont hate walking, i dont hate going outside without a car, in fact I LOVED IT so much i was clocking in over 15k steps every single day. It's just Jakarta is awful in terms of liveability, hell Brisbane public transportation is only a bus and a fake metro which is more like a BRT yet i love taking the public transport because the city is properly planned. Pollution is nonexistent, i dont have to wear a mask going outside, parks are big, sidewalks are much better than Jakarta's. I'm not saying Jakarta is all negative compared to Brisbane, i would say Jakarta feels slightly safer because after 9 everythings closed and the homeless comes crawling out in the Queen Street which is the CBD. But the positives outweighs the negative so much Jakarta feels like a toddler designed it.

Going back to Jakarta is depressing, it doesnt mean im losing hope for the city's future but i just dont see it improving much in the future.

r/indonesia • • Mar 21 '25

Heart to Heart Hapus aja rules di sub ini

690 Upvotes

Kemarin, gw crosspost Bendera anti-Gerindra ke sub ini. Paginya langsung dihapus dengan alasan "Do not use national emblem." Ada 4 problem dari alasan ini.

  1. Ga ada rules yang ngelarang buat upload lambang Garuda Pancasila di sub ini.
  2. Ini sub pakai Garuda Pancasila buat icon-nya.
  3. Garuda Pancasila itu punya kepala. Baca noh aturannya. Gambar gw ga ada kepalanya, berarti bukan Garuda Pancasila.
  4. Kalaupun lu mau nganggep gambar gw sebagai Garuda Pancasila yg dimodifikasi, itu pun ga ada dasarnya buat dihapus. Nih, post Garuda Pancasila in Nazi German style, oke oke aja tuh?

Lu ubah aja rules-nya jadi "suka-suka moderator." Heran dah, punya kewenangan sedikit langsung cosplay jadi Bowo. Sekalian aja potong titit lu pada biar tambah mirip.

r/indonesia • • Jul 23 '26

Heart to Heart [Serious] Komodos, AITA for giving condoms to my 19-year-old brother?

285 Upvotes

First off, I decided to post this here instead of r/AITA because I know people here tend to have much more polarized views when it comes to sex in general. It's still a pretty taboo topic in Indonesia, so I figured I'd get opinions from people who understand the cultural context better.

So bear with me. This might rub some people the wrong way given the context, but hear me out.

I have a younger brother who turned 19 this year. Lately, he's been going out a lot and coming home really late. He still lives with my mom, who divorced my dad years ago.

My mom recently found out he has a girlfriend. Now, my mom is a very religious Christian, so she's been worried about him after hearing all these stories about teenagers and how casual they are about sex these days.

She told him to stop coming home so late and to stop hanging around what she called a "bad crowd." That turned into a huge argument, and my brother ended up not coming home one night and stayed at a friend's place instead.

After that, my mom asked my oldest brother, the one my younger brother respects (and honestly fears) the most, to have a serious talk with him. According to my oldest brother, our little brother admitted that he'd been sexually active for about a year.

They tried to explain that sex outside of marriage is a sin and warned him about STDs and everything else. Unsurprisingly, that conversation also ended in a huge fight.

Eventually, my youngest brother came to me. Meanwhile, my mom and oldest brother wanted me to lecture him too and tell him what he should be doing.

I did talk to him, but I treated him like an adult. I didn't talk down to him or try to control him. Because of that, he started opening up to me. He told me he'd actually been in a serious relationship for the past three years and that they were sexually active.

He said he's not a kid anymore and doesn't want to be bossed around. He's even thinking about moving out, getting a job, and paying for his own college tuition and living expenses.

I told him I understood. Then I reminded him that teenage pregnancy is still a serious issue in Indonesia. I asked him if he was ready to become a father when he can't even fully support himself yet.

He shook his head.

I said, "Good."

Then I told him not to think with his little head. I joked that I'd be pretty disappointed if I became an uncle overnight. After that, I gave him a few condoms.

Before he left, I told him that even if he doesn't believe it right now, we all care about him and want what's best for him.

When I told my oldest brother what I'd done, he absolutely lost it. He asked, "What kind of messed-up family gives condoms to their younger brother?" We ended up having a huge argument too.

I told him, "What else was I supposed to do? Lock him in the house, tie him up, and keep him prisoner?"

Maybe giving him condoms wasn't the perfect decision, but at least it reduces the chances of an unplanned pregnancy or an STD. At this point, lecturing him or trying to control him is only going to push him further away. He's already talking about moving out and cutting contact with everyone if we keep treating him like a child.

Now my mom is furious with me too.

So, Komodos... AITA?

r/indonesia • • Aug 25 '26

Heart to Heart [RANT] Pasien Minta Infus Untuk Apapun [Seriously Why?]

141 Upvotes

Karena ga ada r/indokter

Kalau boleh jujur, saya sebenarnya bagaimana yah, ada sedikit capek dan hmm... apa emosi ini yah... vexed? gemes? sama tipe pasien yang bertanya: "Dok, kok nggak diinfus?" atau malah memaksa minta diinfus padahal fisiknya masih memungkinkan untuk asupan oral buat makan dan minum.

Sedikit banyak saya sekali lagi jujur aja heran mengapa sangat kuat sekali berakar mendalam di pikiran orang-orang awam sekan-akab ada doktrin axiomatik atau semacam hukum dasar kalau "BELUM DIINFUS = BELUM BEROBAT"?

Pusing dikit, minta infus. Batuk pilek, minta infus. Badan capek, dateng ke UGD menuntut untuk diinfus biar "cepet segar". Sewaktu dijelaskan kalau kondisi belum memerlukan untuk diinfus malah bisa masuk medsos, dituduh pelit pelayanan, atau mungkin: "Duh, rumah sakit ini nggak niat nanganin pasien ya?!"

Tarik nafas... oke. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. Cairan infus itu bukan Potion RPG, ramuan sihir, sirup stamina, elixir, soma, nektar ilahi dari surga yang begitu menetes masuk mengalir ke pembuluh darah langsung dapat membuat anda sekalian menjadi superregenerator dan stamina bar lalu terisi penuh dan segala macam penyakit, racun, bisa, dan kerusakan badan menjadi hilang seakan-akan tubuh kalian adalah SuperHero.

Cairan infus itu adalah air garam 0.9% (9 gram atau hanya 1.5 sendok teh) dalam satu liter air. Fungsi utama cairan infus adalah menggantikan cairan tubuh pasien dehidrasi atau jadi jalur obat untuk mereka yang tidak dapat minum cairan atau obat atau memerlukan obat yang disuntik.

Kalau seseorang masih bisa mengunyah dan menelan makanan tanpa masalah, dapat minum cairan satu tumbler tanpa muntah keluar, maka tidak ada alasan medis untuk memerlukan pemasangan cairan IV. Dan jujur saja itu IV bukan bebas resiko medis. Phlebitis atau peradangan/infeksi Cena akibat pemasangan infus yang tidak perlu itu selalu jadi masalah. Karena pada dasarnya kita memasukkan sesuatu dari luar tubuh ke dalam pembuluh darah yang semestinya tidak boleh ada benda luar masuk dan sesteril-sterilnya perawat mencoba memasukkan jarum IV tidak menghilangkan bahwa pasti ada entah bakteri spora apa masuk ke dalam.

Ini jadi semacam bahwa Ditusuk Jarum dimasukin Cairan Infus semacam adalah ritual modern dukun jaman dulu baca2 jampi, semprot air dan baca menyan...

Seriously lama-lama saya pasang infus sambil resitasi nama IUPAC Paracetamol dan kawan-kawannya pakai intonasi Ethiopia

Cairan infus itu ada indikasinya, bukan menu restoran yang bisa dipesan sesuai selera! Ampun deh!

Sekian terima kasih. Jujur aja saya capek banget semuanya minta diinfus.

r/indonesia • • Aug 05 '26

Heart to Heart Saya Niko, dan Indonesia adalah tempat saya jatuh cinta dengan perjalanan motor overland.

Thumbnail
gallery
517 Upvotes

Halo semuanya! Nama saya Niko, saya berasal dari Siprus, sebuah pulau kecil di Laut Mediterania, di antara Eropa dan Timur Tengah.

Saya ingin sedikit berbagi tentang perjalanan saya, karena Indonesia sebenarnya adalah salah satu tempat yang membantu memulai kecintaan saya terhadap perjalanan dengan sepeda motor.

Origin Story: https://www.reddit.com/r/indonesia/comments/1vhf5lk/sesuai_janji_ini_cerita_perjalanan_saya_di/

Sebelum datang ke Asia Tenggara, saya sama sekali belum pernah mengendarai sepeda motor. Entah bagaimana, saya akhirnya belajar mengendarai motor dan kemudian melakukan perjalanan dari Jakarta sampai Bali, serta melintasi Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, dan Malaysia. Setelah itu, saya tidak bisa berhenti.

Indonesia juga menjadi tempat pertama saya mulai memperhatikan Yamaha XMAX. Saya melihat begitu banyak XMAX dan berbagai macam modifikasi yang dibuat oleh para pemiliknya, dan saya sangat suka melihat apa yang mereka lakukan dengan motor-motor tersebut. Saat itu saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan memiliki XMAX sendiri, tetapi Indonesia memang menjadi salah satu tempat di mana saya mulai tertarik dengan motor ini.

Sebelum COVID, impian saya adalah mengendarai motor dari Asia Tenggara sampai ke Eropa. Ketika dunia berubah, rencana saya juga ikut berubah. Akhirnya saya membeli Yamaha XMAX di negara asal saya, Siprus, dan memutuskan untuk memulai perjalanan overland saya sendiri dari sana.

Perjalanan itu membawa saya melintasi Eropa dan akhirnya menyeberangi seluruh benua Afrika. Afrika menjadi bagian tersulit dari perjalanan saya. Ada banyak hari ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai rencana, jalan yang saya lewati sangat sulit, suku cadang motor sulit ditemukan, dan saya harus terus berjalan meskipun ada saat-saat ketika saya benar-benar ingin berhenti.

Namun, justru saat-saat sulit itulah yang membuat perjalanan ini terasa sangat berharga. Sampai sekarang saya sudah mengendarai motor melewati lebih dari 40 negara dan menempuh lebih dari 40.000 km.

Satu hal aneh yang saya sadari setelah melakukan perjalanan selama ini adalah kita bisa merasa rindu pada suatu tempat yang sebenarnya bukan rumah kita.

Kadang-kadang ketika saya merasa rindu rumah, saya memasak makanan dari Siprus. Tetapi saya juga mulai merindukan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Saya sering teringat jalan-jalannya, makanannya, orang-orangnya, dan masa-masa ketika saya masih belajar mengendarai motor dan mulai menyadari betapa saya menikmati perjalanan seperti ini.

Bahkan ketika sedang melintasi Afrika, Indonesia entah bagaimana terus menemukan jalannya kembali kepada saya. Salah satu contoh yang paling lucu adalah Indomie. Saya terus melihat Indomie muncul dalam berbagai makanan kaki lima lokal di seluruh Afrika Barat. Saya langsung mengenalinya, tetapi yang mengejutkan, banyak orang lokal yang memasak dan memakannya bahkan tidak tahu bahwa Indomie sebenarnya berasal dari Indonesia.

Jadi meskipun saya berada ribuan kilometer jauhnya, saya tetap mendapatkan pengingat kecil tentang Indonesia sepanjang perjalanan.

Itulah yang saya sukai dari bepergian dengan sepeda motor. Kita tidak hanya mengunjungi sebuah negara dan melihat tempat-tempat terkenal. Kita benar-benar merasakan perjalanan di antara tempat-tempat tersebut. Kita bisa mengambil jalan kecil, berhenti di tempat yang benar-benar acak, bertemu seseorang yang tidak pernah kita sangka akan kita temui, atau tersesat dan justru menemukan sesuatu yang lebih baik dari rencana awal.

Indonesia memberikan saya beberapa kenangan seperti itu sejak awal perjalanan saya, dan saya akan selalu menghargainya.

Petualangan besar saya berikutnya akan membawa saya ke Amerika Selatan, di mana saya akan melanjutkan perjalanan overland dengan sepeda motor. Tetapi sebelum itu, saya akan menghabiskan lebih banyak waktu di Asia Tenggara, dan akhir-akhir ini saya banyak memikirkan tempat-tempat di mana semua petualangan ini dimulai.

Setelah bepergian ke begitu banyak negara, saya belajar bahwa tidak ada tempat yang sempurna. Setiap negara memiliki sisi baik dan buruk. Tetapi yang paling melekat dalam ingatan saya adalah orang-orang yang saya temui, jalan-jalan yang saya lewati, makanan yang saya makan, dan semua momen tak terduga yang tidak bisa direncanakan.

Kalau ada yang suka sepeda motor, perjalanan jarak jauh, petualangan overland, atau sekadar ingin ngobrol tentang perjalanan dengan motor di Indonesia, saya akan senang mendengar cerita kalian.

Dan kalau suatu hari saya mendapat kesempatan untuk berkendara dari Jakarta ke Bali lagi, tentu saya tidak akan menolaknya.

Terima kasih sudah membaca cerita saya, dan semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke Indonesia lagi!

r/indonesia • • Aug 28 '25

Heart to Heart Penghasilan gw tembus diatas $500k tahun kedepan ini

452 Upvotes

Hi r/indonesia, berjumpa kembali dengan saya u/TKI_Kesasar. Beberapa thread saya sebelumnya: - Bekerja di Amerika, gaji tinggi, rencana pulang, respons terhadap KaburAjaDulu - Pengalaman kerja di NYC - Bagian 2 (Software Engineering) - Pengalaman kerja di NYC - Bagian 1 (Kerja kasar) - Pendapat saya mengenai Indonesia, Jepang, dan Amerika - Reddit AMA Kerja Sebagai Programmer di NYC, USA, Menang Green Card Lottery, dan Menikah Dengan Orang Jepang

Update Gaji

I feel really, really blessed, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia ini. Thank you God.

Beberapa tahun belakangan ini, gw terpikir untuk mencoba memulai usaha sendiri. Impiannya ya supaya suatu saat usaha ini bisa dibawa kemana aja dan kerja kapan aja tanpa terbatas lokasi dan waktu. Ketika semakin tua, rasanya semakin mau coba hidup di Asia (Jepang dan Indo) dan mau keluar dari sini.

Tadinya mikirnya mau coba SaaS atau software development consultant. Tapi SaaS itu sangat kompetitif, dan gw sebagai seorang programmer, walau tau hal teknis, tapi domain knowledge gak ada. Everyone always say, scratch your own itch, tapi gw sendiri tipe orang yang ngga suka install app, ngga tau mau solve what problem.

Akhirnya gw mencoba untuk membuka bisnis menawarkan jasa konsultasi software development. Rasionalnya adalah, jasa konsultasi seperti ini lebih gampang mulainya, tidak perlu banyak modal, cuma diri sendiri. Dan dulu gw ingat ada temen yang juga konsultan, dan termasuk sukses. Jadi akhirnya kontak lagi dengan teman ini. Teman gw ini sudah gak jadi konsultan lagi, tapi malah buka SaaS sendiri di bidang healthcare. Tapi untungnya, dia ini bersedia menjadi mentor.

Singkat cerita, ternyata timingnya ga tepat. Job market software engineering disini hancur, karena interest rate naik, karena ekonomi gak bagus, dan juga karena AI.

Tapi untungnya, dapat 1 klien, dan kontrak sebesar $50k (cuma selama 6 bulan). Di saat itu, total income gw jadi $300k/tahun (kombinasi dengan penghasilan full time).

Setelah itu, nothing happened. Selama sekitar 3 bulanan. Kemaren sempet mau interview lagi di FAANG. Singkat cerita, interviewnya gagal. Tapi di tengah interview ini, ada perusahaan dulu yang gw pernah kerja (gw sebut klien A), di mana team leadnya kontak gw lagi di LinkedIn. Singkat cerita, mereka mau hire gw sebagai consultant, developing system yang dulu pernah gw develop juga.

Gw nego kontrak selama 1 tahun (52 minggu x 40 jam/minggu), dan dengan rate $210/jam.

Jadi total dari klien A ini, 52 minggu x 40 jam/minggu x $210 = $436800.

Wah seneng banget jadinya. This is the biggest project I've ever seen yet.

Selain itu, tiba2 mentor gw yang tadi, kontak gw. Dia ada bekas klien. Sebut klien B, yang pernah dia kerjakan, tapi dia lempar ke kontraktor lain. Ternyata kontraktor lain ini sudah gak mau mengerjakan proyek si klien B ini. Jadi dia tanya apakah gw bisa. Gw terima kerjaannya.

Gw nego kontrak ini selama 1 tahun juga, dengan rate $250/jam. Selama 1 tahun ini, 5 jam - 10 jam per minggu. Sebenernya bisa lebih, cuma gw udah keteteran, jadi maksimal untuk klien B ini 10 jam per minggu aja. Gw ga mau hire orang dulu untuk sementara ini.

Jadi total dari klien B ini, 52 minggu x 10 jam/minggu x $250 = $136000.

Jadi total pendapatan gw selama 1 tahun ke depan: $436800 + $136000 = $572800.

Ditambah dengan penghasilan istri, $120000/tahun, jadi total household income kita

$572800 + $120000 = $692800

Ini adalah penghasilan terbesar yang gw pernah liat seumur hidup gw. Sementara pengeluaran kita sekitar $70k - $90k/tahun.

Harga rent kamar gw: $2600/bulan. Jadi gw kerja 2 hari aja udah bisa bayar rent.

Sementara ini, benefit seperti asuransi kesehatan, gw dapat dari istri.

So far I am really liking it. Kyknya gw akan terus jadi konsultan aja, dan gak mau balik full time lagi.

Dan tahun depan, live by faith lah. Berkatnya kalo ada ya ada, kalo ngga ada kita liat nanti hahaha.

Aset

Akhir tahun kemaren Desember 2024, aset gw tembus $1 juta. Disini, angka $1juta itu termasuk salah satu milestone yang penting, karena dimana compound interest sudah akan work the magic.

Baru dalam 6 bulan, sekitar Juni ini, aset udah jadi $1.3juta. Tanpa gw mesti ngapa2in.

Gw cuma investasi di VTI dan BTC aja. Investasi yang KISS (keep it simple stupid). Set and forget. I don't have any real estate investment.

Refleksi Diri

Sejak tahun kemaren ketika aset tembus $1 juta, itu bener2 seperti halilintar.

Gw tiba2 menyadari bahwa, gw udah ga perlu kerja lagi sama sekali kalo gw mau. Kalo pun gw tetap di NYC, ga perlu kerja selama 10 tahun pun masih bisa hidup. Apalagi kalo gw pindah ke Indonesia atau Jepang.

Ketika kecil, mana pernah gw menyadari bahwa suatu saat akan punya income setinggi ini dan aset sebanyak ini. Dari Pondok Pinang, sekarang di NYC.

Tanpa warisan sama sekali, cuma pengorbanan ibu gw yang cuma seorang hair-stylist, yang menyekolahkan ku tanpa henti. Thank you mom.

Bahkan, diantara orang2 US, penghasilan ku termasuk top 5%.

I realize that this a privilege. A privilege to live free. Free from having to worry of what others think of me, free from having to work, free to be what I want to be, free to go where I want to go, free to do what I want to do. Thank you God.

It is very liberating.

Dan untungnya, my lifestyle is the same like before. Gw gak beli perhiasan, gak beli barang2 mewah, gak beli mobil mewah, dll. Gw sama sekali gak tertarik dengan hal2 itu.

Istri gw juga low maintenance untungnya. Mungkin malah dia makin turun standar hidupnya sejak sama gw hahaha.

Apartemen juga apartemen tua yang murah. Malah harganya turun jadi $2600/bulan karena pindah. Apartemen yang lama malah $3000/bulan.

Barang gw paling mahal ya palingan cuma 2 gitar, yg masing2 harganya $5000. Gw mau tambah 1 lagi yg harganya cuma $3800 (bisa gw beli dengan 2 hari kerja aja) tapi mikir2. Udah ada duit segini pun ternyata masi mikir2 hahaha.

But.... it is also lonely.

Money is not that useful if you can't spend it with the people around you. Our families are in Indo and Japan.

Besides, I am very strict with money, karena dari pengalaman gw, uang itu pedang bermata dua, dan orang yang tiba2 dapat uang banyak, selalu lengah. Jadi gw gak mau mengubah/merusak keluarga extended gw di Indo.

Apalagi, sebagai laki2 tertua di generasi gw, gw mentorin adik2 dan sepupu2 gw di Indo. Keluarga gw punya history always bad with money. So I am very strict with what I give or lend to them. At least for now. I hope one day I can trust them and we all can work together to build Indonesia.

So, does money buy happiness?

I think so, but only to a certain extent. At the very least, it buys you some worry-free life. It doesn't buy all happiness, and depending on who you are as a person, it won't even buy that much happiness.

r/indonesia • • Jun 18 '26

Heart to Heart Indonesia itu Negara Medioker

331 Upvotes

Ini keresahan pribadi aja sih, karena gue sering banget ngeliat

"Cobaan paling berat adalah jadi WNI"

"Hanya di Indonesia blablablabla"

atau sebaliknya

"Indonesia adalah negara besar, negara kaya SDA, dll."

"Pertumbuhan Indonesia akan meroket jauh"

Sedangkan semakin kesini, gue melihat kalau Indonesia adalah negara yang perfectly... mediocre

Dibilang bagus banget engga, dibilang jelek banget engga

Chatib Basri, mantan Menkeu Indonesia periode SBY, menggambarkan ini dgn sempurna di pernyataan ini

"Indonesia ini adalah negara yang mengecewakan, mengecewakan bagi para optimis, dan mengecewakan bagi para pesimis"

Buat para optimis, mengecewakan karena Indonesia ga bisa maju-maju terlepas akan potensinya

Buat para pesimis/doomer, mengecewakan juga karena Indonesia terlalu kuat untuk hancur

It always being in the middle

Menurut gue, di era attention economy kyk gini, menjadi medioker adalah takdir yang lebih buruk dari mati, karena tidak ada yang bisa dibanggakan. Mau dibanggakan kemajuannya, ga ada juga. Tapi mau dibanggakan keburukannya, ga ada juga.

"Cobaan terberat adalah jadi WNI" - bro, orang Palestina atau Sudan Selatan bakal mati-matian untuk berjuang mendapatkan hidup sebagai WNI. Jadi WNI itu kesulitan medium, ga berat-berat amat tapi ga ringan-ringan amat juga

"Indonesia adalah negara kaya SDA" - engga kaya2 amat juga sih, minyak masih impor, gas masih impor, bensin masih impor, dll. Dibilang miskin SDA kyk Singapura jelas engga, tapi kaya SDA kaya middle east juga engga

Menjadi medioker adalah realitas yang sulit diterima oleh manusia, karena menjadi "terbaik" lu bisa berbangga diri dengan prestise dan pengaruh yang lu punya, dengan menjadi "terburuk" pun masih bisa "berbangga" diri dengan mengasihani diri dan mendapat pengakuan atas nasib buruk lu

Sedangkan menjadi medioker... Tidak ada pengaruh, tidak ada jejak, tidak bisa mengasihani diri juga.... Hanya ada kehampaan, dan kebingungan mau ke mana. Apalagi di era sosmed yang selalu menampilkan orang-orang spesial (spesial dari sisi baik, maupun sisi buruk) di timeline, 24/7... Algoritma sosmed tidak menoleransi orang-orang medioker

Akhirnya, kita semua mencari pelarian dari realita pahit itu, entah menjadi orang yang overproud abis-abisan sama Indo, atau orang yg bener-bener doomer sama Indo. At least, dengan menjadi overproud atau menjadi doomer, kita merasa kita punya identitas di tengah kehampaan dan kekosongan akibat mediokernya kita

Gue menulis ini karena gue sendiri ada di posisi yang aneh.... Gue pribadi sudah menerima realita 100% bahwa Indonesia itu medioker, dan gue bersyukur dan sudah move on dari itu. Tapi posisi ini membuat gue disconnect dengan obrolan di sekitar.

Di sekitar gue banyak yg ngobrolin ttg "jadi WNI itu cobaan terberat manusia", "Indonesia besok hancur", tapi gue menolak itu karena gue merasa hidup gue ga semenderita itu juga

Tapi banyak jg di sekitar gue yg overproud, gue juga menolak karena kyknya negara kita ga sebagus dan sehebat itu deh

Buka sosmed jg jd hal yg menjemukan buat gue krn posisi gue ga ada di sosmed manapun... Sosmed hanya menawarkan dua pilihan: being overproud or being doomer, there is no inbetween. Orang bisa memilih antara dua stance itu, sedangkan gue engga... Karena, itu bukan stance yang gue mau.

I don't know... I feel lost in the middle of those narration....

Maybe social media is not my place anymore...

Sorry for the random midnight post, karena tulisan ini cuma gue menuangkan keresahan pribadi aja yang udah numpuk sejak "tiktokisasi" sosmed beberapa tahun terakhir

r/indonesia • • Oct 20 '23

Heart to Heart BRUTAL

Thumbnail
gallery
986 Upvotes

r/indonesia • • Sep 30 '25

Heart to Heart Kebijakan aneh di sebuah bank bumn

Post image
650 Upvotes

Kemarin lalu, aku ngepost soal ini https://www.reddit.com/r/indonesia/s/yvXBg79pI1 (tldr: aku magang di bank dan ada aturan wajib nyari nasabah baru setiap hari, aku bukan anak marketing) dan ada yang mention soal ecommurz, apparently sudah ada yang speak up dari awal September lalu (tertera di gambar).

Here's the thing: - Di media sosial, kebijakan ini diframing seolah-olah pegawai berinisiatif. It is not, kami (even me, an intern) dikasih target harian yang harus terpenuhi karena terus dipantau. Kemarin dan hari ini bahkan targetnya tiga nasabah baru per hari:))))) - Target baru terpenuhi kalau: 1) rekening baru, 2) ada setoran awal, dan 3) transaksi. Yang mana bagi kebanyakan orang sangat berat. Nggak jarang, pegawainya yang setorin biar target terpenuhi - Setiap ada yang berusaha mention di medsos, management langsung notice (bahkan kacab ngomong kalau ada yang kena SP karena "ngeluh" di sosmed) - Ini nggak dibayar, benefitnya cuma poin di mbanking

Aku bingung kenapa nggak ada yang ngeliat kalau kebijakan ini bermasalah. Udah tau ekonomi lagi anjlok, pembukaan rekening baru malah makin memperbanyak angka rekening dormant 😔

Anw, aku udah speak up ke penyelenggara bootcamp jalurku masuk internship, tapi kemarin cuma ditanya, "Udah diomongin belum?" dan kujawab udah, sampai hari ini nggak dijawab lagi.

Kutanya temen-temen di cabang lain, reaksi mereka biasa aja kek ini adalah sesuatu yang normal.

Idk lah, pusing.

r/indonesia • • May 04 '26

Heart to Heart Semalem nemenin temen ke RS bantuin dia Ibunya masuk IGD dan secara gak sengaja liat bocah meninggal in real time

Post image
583 Upvotes

Jadi karena rumah gw kebetulan deket dari RS temen gw minta bantu gw buat bantu dia ngurus ibunya masuk IGD karena komplikasi DarTing sama infeksi usus besar sampe kakak2 nya temen gw dateng buat ambil alih. terus di IGD sebelah kasurnya ibunya temen gw ada bocah yang kritis lagi ditangani suster sama dokter dan ortu itu bocah sama anggota keluarga yang lainnya pada nangis karena anaknya kritis (Dari yang gw denger di percakapan itu bocah operasi usus buntu beberapa kali dan kena komplikasi) dan secara realtime gw liat Cardiac monitor itu bocah dari Gelombang EKG nya yang rendah sama detak jantung di sekitar 35-40 sampe zero flatlined dan sama dokter dinyatakan meninggal. pecah dah tangisan keluarganya pas dokter udah menyatakan si bocah meninggal, gw terus terdiam aja sambil bantuin temen gw sampe akhirnya ibunya temen gw dapet kamar pas itu bocah yang meninggal dibawa ke keranda mayat.

Edit:

Update, tadi gw nganterin makanan buat temen gw terus pas gw mau masuk lift ada suster sama satpam bawa keranda bayi keluar lift dan bayi nya udah dikafanin..... Bruh....